Ya dan Tidak, Itu Saja
Tiba-tiba terbersit, apa beda ngobrol, diskusi, rapat, seminar, sarasehan, simposium, belajar kelompok dan lain-lain. Mata kemudian tertuju pada satu buku karya Prof. Harold P. Zelko berjudul Teknik Diskusi Dan Rapat Modern. Membuka lembaran acak, pada hal 290-291, di situ tertulis:
Model F Pertelaan Reaksi Perorangan (untuk analisa diri sendiri peserta)
Apakah ini pertemuan yang berarti?
Apakah tujuannya tercapai?
Apakah pertemuan itu dipersiapkan dengan baik?
Apakah ketua rapat melakukan tugasnya dengan baik?
Apakah ketua rapat terlalu menguasai persidangan?
Apakah saya mempunyai perasaan bisa berlaku bebas?
Apakah saya memberikan semua informasi yang ada pada saya?
Apakah saya bersedia bekerja sama?
Apakah saya terbuka untuk apa yang dikatakan peserta-peserta lainnya?
Apakah saya tetap menunjukkan perhatian?
Apakah saya menjadi pendengar yang baik?
Apakah saya telah berbicara dengan cara yang tepat?
Apakah saya telah membantu untuk tertibnya berlangsungnya rapat?
Apakah seharusnya saya mengadakan persiapan lebih baik?
Apakah saya ikut memberikan sumbangan kepada pengambilan keputusan?
Sebagai penutup dikatakan, model F ini dianjurkan untuk dipergunakan oleh setiap peserta sebagai daya upaya untuk mendapatkan pengertian yang kritis dalam caranya sendiri berpartisipasi dan reaksi-reaksinya selama berlangsungnya diskusi.
Melihat daftar pertanyaan yang bisa dijadikan evaluasi diri tersebut, bisa saja ditambahkan pertanyaan-pertanyaan yang lain, semisal,
Apakah saya tidak percaya diri untuk mempertahankan pendapat saya, ketika ada argumentasi yang sepertinya lebih banyak dilirik?
Apakah saya sering terpengaruh oleh suatu argumentasi sehingga bisa merubah pendapat/keputusan saya?
Apakah saya rentan terhadap perbedaan pendapat atau mendapati kritik yang ditujukan pada pendapat saya?
Apakah saya sering memaksakan pendapat saya, atau sebaliknya saya enggan memperjuangkan pendapat/argumentasi dan cenderung menghindari konflik dan perdebatan.
Dan lain sebagainya.
Ini tentu saja belum menjawab tentang apa beda ngobrol, diskusi dan seterusnya sebagaimana tertanya di awal, namun dari lembaran pertanyaan ini mengingatkan pada aktifitas semalam, dalam Rebon Jodhokemil; ketika beberapa orang melingkar dan mengambil suatu keputusan yang akhirnya disepakati bersama.
“Sidang” Rebon edisi Oktober kali ini dipimpin oleh personil yang juga pimimpinan Sanggar Dom Suntil, Warangan, Pakis, Magelang. Selain sebagai praktisi tari, dia juga malang melintang menjadi pelatih kesenian-kesenian rakyat (soreng, topeng ireng, warokan, dll).
Secara keseluruhan terhitung satu jam diskusi berjalan, setelah kemudian dilanjutkan acara olah komposisi. Secara khusus sekitar setengah jam penentuan keputusan ini terjalankan, menjawab pertanyaan “ya atau tidak”, menanggapi tawaran Jodhokemil “main” dalam suatu acara.
Hal yang menarik adalah ketika suatu pendapat bisa mempengaruhi pemikiran yang lain. Argumentasi yang tepat berdasar masalah yang dihadapi bisa merubah seseorang dari “ya” ke “tidak” dan sebaliknya. Panjangnya spasi/ jeda dalam pengutaraan yang masih terlihat pada beberapa orang, menuntut kesabaran yang lain dalam mendengarkan argumentasi yang disampaikan.
Persoalan benturan jadwal personel, prioritas antara agenda pribadi dan kelompok, kelengkapan formasi personel, dan pengaruhnya kepada materi yang hendak disajikan turut mewarnai jalannya pengambilan keputusan.
Endingnya, satu orang di antara personil mengajukan usul, untuk mempertegas jawaban dari setiap personil, berdasar pada segala pertimbangan dan argumentasi yang telah disampaikan, juga untuk lebih menjalankan kejujuran berdasar rasa dan pemikiran, maka masing-masing menuliskan jawabannya dalam secuil kertas untuk hanya mengatakan jawabannya “ya atau tidak” itu saja, tanpa dituliskan nama penulisnya.
Hasilnya, satu kertas bertuliskan “ya” dan kertas yang lain bertuliskan “tidak”. Ada satu kertas (yang melenceng dari instruksi) bertuliskan “maaf”.
Kata maaf ini akhirnya mewakili untuk menjadi jawaban yang disampaikan kepada panitia pengundang.
Berani mengatakan tidak, memang terasa berat namun sekali-kali tentu itu diperlukan.
Kembali pada apa beda ngobrol, diskusi, rapat, sarasehan, seminar dan lain semacamnya?
Sepertinya ini telah banyak diulas, googling saja.
SSS - Okt 2021