Catatan Maret 2020
Hujan mengguyur sejak sore, nampaknya hampir merata di seluruh wilayah Magelang, begitu juga di Sanggar Wening (SW), Mertoyudan. Hal itu terlihat dari kedatangan peserta Rebon Jomil malam ini yang berangkat dari berbagai penjuru daerah di Magelang yang memakai jas hujan dalam perjalanannya.
Rupanya udara dingin dan basah tidak menyurutkan semangat Reboners untuk berkumpul, meskipun beberapa orang tidak hadir dan sebagian hadir tidak tepat waktu karena cuaca dan kesibukan masing-masing, tidak seperti yang telah diagendakan sebelumnya yaitu pukul 21.00 mulai.
Rebon bergulir tidak begitu formal, santai, mengalir dengan aktifitas tanya jawab spontan yang dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan Arif Playhearts kepada Dimas Steven pemusik Magelang yang baru kali ini bergabung dalam lingkaran Rebon. Kemudian disusul inisiatif dari Sigit SS yang seolah menjadi moderator ala acara diskusi mengenai musik dengan tanya jawab antara audiens dan narasumber. Satu persatu bergantian menjadi narasumber, dan yang lain menjadi penanya.
Tidak ingin kehilangan momentum, dokumentasi video diambil untuk arsip Rebon oleh Mang Yani dan Arif Playhearts.
Kehangatan di SW semakin terasa dengan hasil olahan camilan tempe goreng dan minuman hangat oleh Dona dan Rio yang memilih menjalankan kemerdekaan ber-Rebon dengan memasak. Begitu juga kemerdekaan peserta Rebon lain yang tetap ikut menghangatkan suasana yang masih dingin karena hujan.
Sekitar pukul 22:30 di sela aktifitas, hadir dua orang perwakilan dari desa Bogeman Magelang yang setelah aktifitas selesai menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu mengundang Jodhokemil untuk ikut bersinergi di rangkaian acara Nyadran di Bogeman tanggal 11 April 2020 pukul 20:00.
Setelah pembahasan selesai, Rebon juga selesai tanpa penutupan formal dan dilanjut dengan aktifitas masing-masing reboners sambil menikmati gorengan yang sudah mulai dingin dengan suara katak dan rintik hujan yang belum juga reda.
Budiyono - Rabu 4 Maret 2020.
Pukul sembilan malam lebih sekian, lantunan irama dangdut klasik masih mengalun memenuhi sudut-sudut pendopo Sanggar Wening. Sesekali terdengar tawa dari mereka yang hadir malam itu. Mungkin terbawa nuansa musik yang ceria. Mungkin juga karena geli melihat pemainnya yang geli sendiri mendapati dirinya asik memainkan irama yang tak sering dimainkan di pendopo itu.
Tepat setelah jamming dangdut usai, Rebon dibuka. Selanjutnya moderator memberi pengantar, yang memancing peserta Rebon untuk mengingat-ingat kembali misi diadakannya Rebon, yang salah satunya adalah menjadi ruang untuk mengasah kemampuan berforum. Kemudian moderator meminta masing-masing menyampaikan hal apapun yang ingin disampaikan dalam forum.
Mulai dari sekedar salam sapa, harapan-harapan, kritik pada kepedulian dan rasa memiliki ruang, kabar kesibukan individu, pembahasan fase-fase dalam berkelompok, antisipasi kondisi cuaca, sampai dengan info-info ter-update di lingkungan sekitar, satu persatu diutarakan oleh peserta rebon. Selanjutnya masing-masing dipersilahkan saling menanggapi, masih secara resmi ala forum Rebon yang (serius ingin) serius tapi (tetap saja) santai.
Aktifitas yang sudah kesekian kalinya dijalankan dalam Rebon jodhokemil ini lagi-lagi kembali menyadarkan bahwa dibutuhkan kerelaan untuk membuka diri dan saling mendukung, untuk mewujudkan ruang belajar bersama yang asik dan kondusif.
Berbicara 3 menit tanpa terpenggal "ee..", "nganu..", "apa ya?", dan lain-lain, ternyata tidak mudah. Jika diibaratkan musik, memang belum ada yang berhasil memainkan satu lagu utuh. Masih ada masalah ritme yang terbata, dinamika yang datar, dan volume yang kurang pas. Namun setidaknya malam itu semua sudah bersedia berusaha dan berhasil bertutur dengan rileks.
Setengah sesi Rebon berikutnya, dimanfaatkan oleh personel jodhokemil, peserta arisan komposisi, untuk menata ulang komposisinya dengan bantuan pemain instrumen string (bersenar). Sementara peserta Rebon yang lain bebas beraktifitas sesuai keinginannya. Kabut (yang tumben) pekat, lambat-lambat merambat turun ke tanah ketika Rebon malam itu ditutup.
Dho - Rebo Legi, 11 Maret 2020
Di tengah kewaspadaan yang semakin meningkat terhadap Virus Corona, Rebon tetap berjalan di SW. Keluar rumah dan berkumpul untuk Rebon bukan berarti mengabaikan himbauan pemerintah untuk menjalankan social distancing, namun bagi kami berkumpul dalam lingkaran Rebon (selama dirasa aman) adalah self recharging yang barangkali kegembiraannya justru mampu meningkatkan imunitas tubuh.
Rebon dimulai sekitar pukul setengah sepuluh malam, di-handle oleh Arif Play Hearts dengan gayanya yang tidak banyak basa-basi, setelah sholawat dan do'a, forum diajak untuk saling berbagi apa yang dirasakan dan dipikirkan mengenai 3 hal, yaitu capaian personal, hal-hal terkait Jodhokemil, dan yang sedang menjadi perhatian hampir semua orang di dunia saat ini, yaitu wabah Virus COVID-19.
Satu-persatu bergantian mengutarakan pikirannya melalui kata-kata, seperti biasa gelak tawa selalu menjadi bumbu penyedap aktifitas ini. Masih dengan tuning niat yang sama yaitu belajar mengungkapkan sesuatu dengan baik, rileks dan lancar, juga belajar mengontrol diri dan membaca situasi saat berbicara, sehingga semua bisa saling mendukung.
Aktifitas seperti ini masih terus menjadi menu utama dalam Rebon untuk upaya peningkatan kualitas personal, dengan syarat mau membuka diri tentunya. Sesi pertama diakhiri dengan tercatatnya rencana-rencana jangka panjang dan pendek terkait proses berkelompok Jodhokemil.
Ditentukanlah beberapa wacana yang bisa segera direalisasikan, salah satunya yaitu persiapan dan pengecekan piranti untuk live track record lagu-lagu Jodhokemil rebon mendatang.
Menyambut kerinduan pada aktifitas bermain yang diungkapkan oleh beberapa peserta pada sesi pertama, kali ini Sigit Sky Sufa mengajak bermain bagi yang bersedia untuk ikut, "Tetap dengan asas kemerdekaan, hehe", tambahnya dalam ajakan bermain ini.
Sudah hampir pukul sebelas malam sebelum aktifitas ini dimulai, dua orang sudah pamit pulang, bersikap bijak pada tubuh, menjaga stamina untuk aktifitas esok hari.
Papan tulis dan spidol telah disiapkan, satu kata ditulis pada papan yaitu, HIDUP. Instruksinya kurang lebih begini, " Tulis kata baru yang berkaitan dengan kata yang sudah ada, hubungkan dengan tanda panah dan disertai penjelasan lisan".
Kegembiraan bermain pun dimulai, semua saling bergantian mengisi papan tulis, siapa yang sudah menemukan kata, langsung maju. Semakin penuh papan tulis dengan tulisan, semakin seru permainannya. Mata kamera tetap tidak terlewatkan mengabadikan momen dan menambah keseruan aktifitas ini.
Menciptakan kondisi saling mendukung adalah hal penting untuk aktifitas apapun. Dalam Rebon siapa saja berkesempatan menjadi pemimpin, inisiator, instruktur, conductor, dan bentuk kepemimpinan lain karena pengkondisiannya adalah untuk ruang belajar, otomatis semua akan mendukung sepenuhnya asal kepemimpinannya bisa dipertanggung-jawabkan.
Kembali pada papan tulis yang sudah cukup penuh dengan tulisan, permainanpun berakhir dengan tetap mencoba memaknainya, masing-masing punya pemaknaan yang berbeda. Menurut saya dari aktifitas ini kita bisa menemui hal-hal yang mengejutkan dan tidak terduga dari orang lain, juga bisa saling mengisi dan melengkapi satu sama lain.
Rebon berakhir dengan pertanyaan, apa nama yang cocok untuk aktifitas ini?
Budiyono - 18 Maret 2020