Angka-Angka adalah Bagian dari Jodhokemil
...
Ya...
Saya mencoba mengosongkan kalimat awal yang biasanya diisi dengan salam. Namun tidak sepenuhnya, hanya saja saya ganti dengan dua titik. Sebagaimana mereka mengawalinya malam itu dengan bacaan Ummul kitab dan Shalawat, yang sengaja dihadirkan bilamana mendamba hidup penuh berkah.
Terlihat betapa hangatnya pertemuan rutin yang berlangsung di bawah nyala lampu 40 watt malam itu. Tepatnya di Sanggar Wening.
Kemudian, seperti yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, aktivitas Rebon membiasakan diri untuk berbagi kabar, apa saja terkait dirinya dalam kurun waktu seminggu terakhir.
Namun sebelumnya, saya akan ajak kalian masuk di kedalaman kertas putih berisikan angka-angka. Seperti halnya aktivitas malam itu, sebelum setiap personal menyatakan kabarnya.
1-511-3-3-511
1-1-511-2-2-511-1
Kemudian dari pola ritmis ini menjadi pedoman, mengarahkan kepada tafsir akan gerak dalam bunyi, memuat elemen pertimbangan dan membawa gagasan yang merujuk pada hal-hal yang dianggap benar, baik, berharga, penting, indah, pantas, serta dikehendaki.
Ya...seperti itulah..
Angka-angka seketika bisa menjadi bijak, bisa mengindikasikan kesigapan, bisa menjadikan pemersatu, yang pada akhirnya melahirkan manfaat.
Angka-angka itu semua adalah sebagian dari keseluruhan angka-angka yang tersepakati lalu membentuk pola ritmis yang ada dalam kertas putih malam itu.
Beralaskan kesadaran individu-kolektif, mereka (Jodhokemil) menciptakan pola ritmis lewat angka-angka dan kemudian menerapkannya menjadi aransemen kedalam komposisinya.
Angka-angka yang mekar diantara malam.
Angka-angka yang hidup ditengah gelisah.
Angka-angka yang telah menjadi bagian dari Jodhokemil secara tidak langsung.
Angka-angka dan kebermanfaatan. Angka-angka yang menjawab kualitas-antusias aktivitas Rebon malam itu.
Setelah dirasa cukup berkomposisi, barulah satu per satu personal dari mereka berbagi kabar. Menariknya disini adalah bagaimana menyuarakan kabar yang tidak sekedar nampak luwes, namun juga syarat akan kualitas, yang kemudian juga berfungsi sebagai refleksi dan tidak hanya berbicara bagaimana, namun juga sejauh mana.
Terlepas dari baik atau kurang baiknya kabar yang disampaikan, serta kedalaman ketika mengungkapkan kabar, tentunya hal tersebut mengasah potensi pribadi menjadi bertanggung jawab.
Oleh sebab itu, aktivitas rutin ini menjadi penting dan dinantikan setiap minggunya. Sehingga pertemuan setiap Rabu malam tersebut menjadi ruang tumbuh yang terus menerus dibangun sebagai daya hidup ber-Jodhokemil.
Malam itu juga terlihat.
Disiplin, kerjasama, komunikasi, serta loyalitas yang telah tertanam, kemudian menjadi saling bersinergi satu sama lain.
Kesalahan adalah momentum yang memaksa mereka bangun dan berlari jauh melebihi sebelumnya. Canda-tawa yang singgah di sudut-sudut pendopo, mengharumkan suasana malam itu.
Pukul 23.30 adalah ujung aktivitas yang disepakati malam itu. Sebagian dari mereka ingin segera mencukupkan aktivitas dan berlanjut ke sesi ngobrol bebas. Sebagian lagi ingin segera mengakhiri, kemudian pulang ke rumah, lalu bertemu kembali Rebon minggu mendatang.
Sedang waktu masih tersisa. Masing-masing diminta berbicara tentang harapan terkait aktivitas mendatang secara padat-akurat.
Hingga akhirnya terdengarlah suara, "Malam ini cukup sekian, bila ada salah-salah kata dari saya, mohon maaf. Mari kita sama-sama akhiri dengan bacaan tahmid, Alhamdulillah.
Dari saya cukup sekian dan terimakasih, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh".
Asrul Sani - September 2021