Beda Bunyi dan Suara
Bunyi dan suara sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya.
Bunyi terjadi ketika ada getaran atau gerakan yang terjadi di udara atau air. Ketika benda bergetar, misalnya seperti membran di dalam telepon genggam atau bibir orang yang bernyanyi, maka gerakan ini membuat gelombang suara yang bergerak melalui udara atau air. Gelombang suara ini kemudian mencapai telinga kita dan otak kita akan memproses gelombang ini menjadi suara yang kita dengar.
Bunyi merujuk pada gelombang mekanik yang merambat melalui medium, seperti udara atau air. Bunyi bisa dihasilkan oleh berbagai sumber, seperti manusia, mesin, atau petir, dan lain-lain.
Suara adalah interpretasi subjektif dari bunyi oleh sistem pendengaran manusia. Suara terjadi ketika bunyi diterima oleh telinga dan diolah oleh otak, sehingga memberikan makna atau arti tertentu.
Dalam konteks ini, bunyi adalah fenomena fisik yang dapat diukur dengan parameter seperti amplitudo, frekuensi, dan intensitas, sedangkan suara adalah pengalaman yang bersifat psikologis dan terkait dengan persepsi individu, yaitu bagaimana kita mengartikan bunyi tersebut.
Ketika kita mendengar sesuatu, otak kita mengubahnya menjadi suara agar kita bisa memahaminya. Dan cara kita mengalami suara tergantung pada bagaimana otak kita memproses dan memahami bunyi tersebut.
Bunyi yang sama dapat ditangkap sebagai suara yang berbeda oleh orang yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa persepsi suara dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Dua orang yang mendengar suara yang sama mungkin akan mengartikannya secara berbeda jika mereka memiliki tingkat pendengaran yang berbeda atau memiliki asosiasi yang berbeda dengan suara tersebut berdasarkan pengalaman atau asosiasi pribadi yang berbeda.
Suara yang kita dengar dan cara kita mengartikannya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang unik bagi masing-masing individu, antara lain:
Kondisi pendengaran: seperti ketajaman pendengaran, kepekaan terhadap frekuensi tertentu, dan kemampuan untuk membedakan antara suara yang berbeda, dapat mempengaruhi cara kita mendengar dan mengartikan suara.
Pengalaman sebelumnya: asosiasi pribadi dengan suara tertentu dapat mempengaruhi persepsi kita terhadap suara. Misalnya, seseorang yang sering mendengar suara sirene ambulans mungkin merespons dengan kecemasan atau perasaan yang lebih intens dibandingkan dengan orang yang tidak terbiasa dengan suara tersebut.
Lingkungan: misalnya, dalam ruangan yang ramai dan berisik, kita mungkin kesulitan mendengar suara yang lemah atau suara dengan frekuensi rendah.
Faktor Psikologis: mood, emosi, dan perhatian dapat mempengaruhi persepsi kita terhadap suara. Misalnya, orang yang sedang dalam keadaan cemas atau stres mungkin lebih sensitif terhadap suara-suara tertentu, sementara orang yang sedang dalam keadaan tenang mungkin kurang peka terhadap suara-suara tersebut.
***